Tangisan Sang Rembulan 2
Tangisan Sang Rembulan 2
Sayup-sayup malam kini telah datang,
Rembulan pun semakin terang benderang,
Bintang gemintang berdatangan, berkedip terang, hingga kedipan cahayanya tak pernah redup dalam pandangan,
Udara dingin yang menyelusup pada tubuh, yang seakan udaranya tak mau menghangatkan,
Suara-suara pun kian redup tak terdengar lagi kebisingan-kebisingan.
Rembulan menyaksikan begitu banyak bintang gemintang yang berdatangan, cahayanya seakan menerangi hati yang sedang suram. Tangis Rembulan tetiba pecah, hingga memecahkan sunyinya malam dan dinginnya malam.
Rembulan berucap lirih sendirian:
"Oh Tuan, bilakah engkau akan datang? Bilakah waktu yang kau tunggu itu untuk menjemputku?. Ingin kupersembahkan cantikku hanya untukmu, ingin kupersembahkan pesonaku hanya untukmu, banyak yang ingin mempersuntingku, banyak yang menginginkan diriku. Disini aku terpaku juga ragu, membisu juga terbelenggu, tetap menunggumu atau justru aku harus menerima Bintang itu? Sedangkan engkau, aku tak tahu kapankah engkau akan datang menjemputku dan membawaku. Tak inginkah engkau bersamaku?. Sungguh disini aku masih berharap engkau datang, walaupun aku tak pernah tahu kapankah waktu itu tiba. Sungguh jika Bintang yang datang itulah yang terindah dan menenangkan gundah di hati, sungguh aku akan menerimanya dengan lapang hati, walau diri ini masih membutuhkan waktu untuk meyakini itulah yang terbaik bagi diri, walaupun hati kecil ini masih terus menanti, dan entah siapakah gerangan, yang telah mengisi relung hati ini?"
Dalam keheningan malam, Sang Pangeran pun diam-diam berucap didalam hati yang terpendam, dia pun sesungguhnya ingin segera menjemput sang Rembulan, sebab keindahannya yang selalu terjaga, cahayanya menerangi setiap mata, namun ketika banyak Bintang gemintang mengaguminya, Rembulan tak pernah membanggakan cahaya dan keindahan yang telah dimilikinya. Bahkan Bintang gemintang itu seperti melihat matahari, yang sebelum menatapnya kemudian langsung menundukkan pandangan, sebab Rembulan begitu menentramkan, cahayanya menerangi isi bumi, keindahannya menenangkan. Memang itu yang didambakan dari sang Rembulan.
Sang Pangeran berdiam dalam renungan panjang, dan berucap lirih sendirian:
"Oh Rembulan seandainya kau tahu, aku sangat menginginkan dirimu, aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjemputmu, sebenarnya ingin sekali rasanya aku membawamu untuk diriku, jika saja langkahku bisa secepat kilat, mungkin saja aku akan cepat sampai kepadamu, tetapi disini aku sedang mempertimbangkan beberapa hal, jika pun kau tak di takdirkan untukku, maka kuharap kau bisa selalu menjaga keindahanmu itu, untuk siapapun Bintang yang kau pilih itu, yang bisa menjagamu. Aku akan berusaha untuk lebih cepat dan tepat untuk menjemputmu, hingga aku tak terlambat datang kepadamu."
Semakin ranumnya malam, hingga keheningan-keheningan kian terasa, lautan air mata yang kian surut, namun langkah tetaplah langkah yang harus terus semangat dan jangan sampai lelah apalagi berniat ingin menyerah, dan udara yang begitu dingin yang tak lagi menghangatkan, hati yang kian membuncah, hingga hiruk pikuk tak terdengar dan tak pernah dihiraukannya.
Begitulah kisah Rembulan yang tetap menanti meskipun belum pernah di takdirkan bertemu, akan tetapi Rembulan tetap yakin akan dipertemukan dengan Sang Pangeran impian, walaupun entah dimanakah itu, siapakah Pangeran itu?
By: Sevi Ulandari, @sevi_ulandari
Bogor, 11 Oktober 2020

Komentar
Posting Komentar