Menemukan Rembulan di Gelap Malam
Menemukan Rembulan di Gelap Malam
Saat ini, sajak-sajak itu mulai ku rangkai dan ku tulis.
Pungguk itu menemukan Rembulan di kegelapan malam, hanya sebagian malam yang terlihat dalam pandangan.
Pungguk itu tak pernah mengetahui siapakah Rembulan itu? Tak pernah melihat seutuhnya, namun seakan mampu memporak-porandakan hati yang sedang suram, menjadi tanaman yang subur, yang di siram air hujan yang kemudian mampu menyejukkan.
Pungguk itu terheran-heran, mengapa satu kali melihat Rembulan itu, seakan rasa itu menjadi satu di dalam qalbu. Tak terlalu lama, Pungguk itu pun mengetahui apa yang di lihatnya itu adalah benar Rembulan yang selama ini di dambakan, mengetahui sedikitnya dari kicauan-kicauan burung-burung yang beterbangan.
Tetiba Rembulan menanyakan sedang apakah gerangan Pungguk duduk termenung dalam keheningan?, Pungguk itu menjawab dengan kata-kata kebingungan, sebab getaran itu tak mampu ia kendalikan, dan masih mempertanyakan apakah dia Rembulan itu?
Memanglah benar, Rembulan itu adalah Rembulan yang sebelumnya di lihat oleh Pungguk.
Saat itu Pungguk sedang dalam kesulitan, tetiba Rembulan itu datang, dan memberikan bantuan, getaran itu semakin kencang tak karuan, sebab kebaikan dan kedatangan Rembulan.
Bukan karena kebetulan, namun takdir yang mempertemukan, dan pertemuan itu membuatnya tak bisa berkata apa-apa, walaupun di depan mata. Sebisa mungkin kata itu mulai di rangkainya, namun sedikit yang terucap untuk keperluan semata, bukan pernyataan, apalagi pengungkapan, yang memang di rasa belum saatnya.
Pungguk hanya bisa melihat langkahnya Rembulan, melihat ketenangan Rembulan, sesekali Rembulan itu menanyakan sesuatu yang memang sebenarnya Pungguk tak sanggup untuk mengatakan, terlihat gugup, jantung pun bergetar tak karuan, basah keringat dingin yang di rasakan, akhirnya kata yang di lontarkan seakan penuh kekaburan.
Namun Rembulan sangat tenang, juga menenangkan ia sangat ramah juga sopan, tak sedikit pun mempermasalahkan apa yang di lakukan Pungguk yang mungkin aneh dan mengherankan, namun Rembulan selalu memberikan penghargaan dalam setiap penyampaian yang di lontarkan.
Di penghujung waktu, banyak sekali yang Rembulan berikan, walaupun itu memang hanya perangai kebiasaan, namun bagi Pungguk itu adalah hal yang tak terlupakan. Rembulan memberikan senyuman dan tawa yang sedikit terekah menghangatkan, seakan Rembulan itu mengetahui bahwa Pungguk akan segera pergi.
Tangisan Pungguk pecah tak terkendalikan, memohon kiranya pada yang Maha Kuasa, agar bisa terus mempertemukan kita, namun takdir berkata lain, justru perpisahan yang di rasakan. Namun Pungguk telah ikhlas, dan memang tak baik jika Rembulan dan Pungguk terus di pertemukan, perpisahan mengajarkan arti tentang mengikhlaskan, dan merindukan Rembulan, dengan cara Menjauhi Rembulan. Semoga kelak akan di pertemukan, dengan cara yang memperlihatkan keindahan, dan pertemuan yang tak akan terpisahkan.
By : Sevi Ulandari, @sevi_ulandari
Bogor, 7 Desember 2020
Senin

Komentar
Posting Komentar